Sepenggal Kisah dari Telaga Al-Kautsar

Gambar : Gerbang Pesantren Telaga Al-Kautsar – Cianjur

Sabtu, 22/9/2018, enam orang perwakilan dari tim kealumnian Bidang Mahasiswa Kaderisasi dan Alumni (BMKA) Salman ITB melakukan kunjungan ke rumah salah satu alumni salman di Cianjur. Beliau adalah seorang aktivis sosial yang merintis pondok pesantren tahfidz Telaga Al-kautsar Cianjur Jawa barat, yaitu Kang Farid M. Ihsan. Beliau adalah alumni kakak Pembinaan Anak Salman (PAS) ITB dan alumni Public Relation UIN Sunan Gunung Djati Bandung 2011.

Pesanten Tahfidz Telaga Al-kautsar beralamat di Kp. Gunung Putri No. 96 RT. 04/06 Desa Sukatani Kec. Pacet Kab. Cianjur 43253. Pesantren ini telah berdiri sejak tahun 2011, dibangun di atas lahan pribadi dan sebagian menggunakan tanah wakaf. Pada awalnya pesantren tersebut adalah lembaga sosial berupa panti asuhan untuk anak-anak dhuafa, yatim piatu, dan terlantar. Mereka berasal dari berbagai daerah dan dari latar belakang masalah sosial yang berbeda. Ada yang dulunya pengamen, tunawisma, anak dari seorang mualaf, hingga anak dari orang tua yang terjerat skandal narkoba. “Mereka datang sendiri teh” jawaban kang Farid saat ditanya bagaimana caranya mengumpulkan anak-anak tersebut. Beliau menuturkan, mungkin karena babeh (sapaan kang Farid untuk ayahnya) adalah orang betawi yang punya banyak tanah dan sering bantu warga tidak mampu, banyak orang tua yang datang buat minta santunan sampai memohon agar anaknya bisa diadopsi oleh beliau. Inilah yang menjadi awal ide pembuatan panti asuhan.

Gambar : Bincang-bincang peserta kunjungan dengan santri

Secara umum kegiatan panti berjalan dengan normal, namun setelah dievaluasi ada beberapa hal yang dirasa kurang, salah satunya adalah pendidikan agama bagi anak-anak. Beranjak dari masalah tersebut dan beberapa pertimbangan lainnya, akhirnya kang farid dan ayahnya memutuskan untuk mengubah panti menjadi lembaga pendidikan islam berupa pesantren yang berfokus pada pengembangan tahfidz Qur’an. Berbekal latar belakang pendidikan pesantren di PPM DT, dan pengalaman berkegiatan di PAS ITB, kang Farid mampu menjalankan pesantren serta mendidik santri untuk menjadi hafidz Qur’an.

“Butuh pengalaman dan kemampuan khusus untuk berhadapan dengan anak-anak, dan kebanyakan dari pengalaman ini didapatkan dari aktivitas saya saat menjadi kakak PAS. Dari PAS juga saya belajar bahwa anak-anak bukan hanya membutuhkan makan dan pendidikan, tetapi juga hal yang lebih esensial dari ini”, jelas ‘kang Ican’, begitulah sapaan santri kepada beliau.  Disamping itu, kang farid juga merasakan keunikan dari Salman. Selain masjid dengan nuansa islami, Salman juga merupakan masjid kampus dengan aktivitasnya yang sangat padat dan beragam, ditambah latar belakang aktivisnya yang berbeda-beda membuat Salman memiliki semangat dakwah yang dinamis dan kaya. “Ya intinya, apa yang saya dapat dari Salman saya itu banyak banget”, tegas beliau.

Sekarang di pesantren ini ada 19 orang santri yang dengan usia dan latar belakang yang lebih beragam. Dari usia SD kelas 2 yang paing muda, hingga kelas 2 SMK. Uniknya selain beragam latar belakang tersebut, mereka juga bukan hanya berasal dari Jawa Barat, ada juga dari Jakarta, Bekasi, bahkan Bengkulu. Selain dididik menjadi seorang hafidz, pada santrinya juga ditanamkan nilai kejujuran dan daya juang. Karena menjadi hafidz bukan hanya sekedar menghafal, akhlak yang baik juga sangat penting agar predikat santri yang berkaraker  dapat dicapai.

Untuk pendanaannya, pesantren Telaga Al-Kautsar mendapat bantuan dari yayasan di Jakarta yang merupakan hasil rintisan orang tuanya, dan dari Korean Angel yang bekerja sama dengan PKPU berupa suplai makanan, serta ada pula bantuan dari beberapa donatur. Selain mengandalkan pendanaan dari beberapa donatur tersebut, dalam pengelolaannya pesantren juga dibantu oleh beberapa relawan yang bertugas mengajar santri, memasak di dapur, dan menjaga kebersihan lingkungan pesantren. Adapun relawan tersebut berasal dari berbagai kalangan, ada mahasiswa, orang tua santri, warga sekitar, dan juga kedua orang tua kang Farid sendiri. Mereka semua ikhlas berbakti tanpa mengharapkan imbalan dari pesantren.Semenjak beralih jadi pesantren, sampai saat ini progress hapalan santri ada yang sudah mencapai lima juz. Ini bisa disebut sebagai prestasi membanggakan karena mengingat latar belakang santri yang mayoritas tidak mendapatkan pendidikan agama yang cukup sebelumnya. Pesantren terus mengalami perkembangan, saat ini bukan cuma pendidikan agama saja yang menjadi fokus utama, pembangunan sarana pendidikan formal pun juga mulai dirintis untuk para santri dan anak-anak warga sekitar. Berbekal bantuan dari Universitas Trisakti Jakarta, sekarang sedang dibangun gedung SMP di lingkungan pesantren. “Semoga nanti anak-anak gak harus jalan berkilo-kilo (meter) buat ke sekolah” ungkap kang Farid.

Gambar : Santri Telaga Al-Kautsar ketika dites hapalan

Dalam kesempatan itu, kang Farid juga berpesan untuk teman-teman aktivis Salman, “Buat temen-temen yang akan memasuki dunia pasca kampus, saran saya adalah temen-temen harus yakin. Dan yang pertama kali untuk menguatkan keyakinan itu ketika temen-temen ingin sesuatu, sampaikan!. Kenapa? Karena dengan temen-temen sampaikan, artinya temen-temen sudah membuat jalan, temen-temen sudah membuat alur yang dimana itu akan menjadi langkah awal dari apa yang temen-temen inginkan itu tercapai. Bahasanya dengan temen-temen cerita, maka Allah udah menyiapkan syariat nya”.

———

 “Dalam berbuat kebaikan, janganlah ragu untuk memulainya. Karena akan banyak sekali pertolongan yang Allah berikan. Dari mana, dengan apa, dan oleh siapa, kita tidak akan pernah tau. Yang jelas, modalnya adalah YAKIN. Insya Allah”. (AHA)

Gambar : Penyerahan cenderamata Masjid Salman kepada Kang Farid M. Ihsan (pengurus pesantren)

——-

BMKA Salman ITB

#KunjunganAlumni1

#ExtraMiles

#RapatdanLurus

#KebaikanYangMengalir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *